Pemrograman

Sabu Presisi Polisi

news image description

turn-bottom-arrow   Foto

Saya tidak sedang membahas kasus seorang kasat narkoba di Polres Bima Kota yang dipecat dan jadi tersangka karena terlibat peredaran sabu. Ini kasus kecil. Yang besar banyak. Di NTB pula. Dari kasus-kasus narkoba pula saya sering malas mengedit berita terkait penangkapan pelaku penyalahgunaan narkoba oleh polisi kalau dikirimi berita oleh wartawan. Sebab pasti begitu-begitu saja. Barang yang disita sepoket dua paket saja. Yang ditangkap orang-orang kecil. Habis itu pelakunya rata-rata ditembak dengan alasan hendak melarikan diri. Dan selalu saja presisi sekali tembakan polisi. Yang kena selalu bagian betis. Entah betis kiri atau betis kanan pelaku. Betapa hebatnya polisi kita dalam hal akurasi menembak. Begitu kencengnya pelaku melarikan diri, tetap saja polisi bisa dengan presisi menembak betis pelaku. Entah bagian kanan maupun kiri pelaku. Tagline ‘Presisi’ benar-benar sudah menyatu dalam raga masing-masing personelnya.

Secara institusional, saya orang yang punya kepercayaan yang rendah terhadap polisi. Tentulah banyak seperti saya, cuma saya kebetulan mengungkapkannya di tulisan. Dan ini tidak ada kaitannya dengan banyak person-person polisi baik yang merupakan teman dan rekan kerja saya. Kepercayaan saya yang rendah ini terutama di bidang penegakan hukum pemberantasan narkoba ini. Dari kasus Teddy Minahasa sampai kasus seorang perwira di polres di Bima maupun di Mataram, begitulah gambaran faktanya. Konon, ini sekali konon, juga saya dengar dari seorang teman, siapa saja yang baru pindah menjadi pejabat tinggi di kepolisian di daerah ini, sudah otomatis disediakan fasilitas oleh bandar. Semoga ini tidak benar. Tapi melihat tren dan grafik kasus bisnis narkoba yang melibatkan aparat penegak hukum kita, saya yakin itu benar.

Saya sedang tidak membahas polisi terlibat bisnis sabu, bisnis obat terlarang. Sebab polisi kita memang secara kelembagaan sudah parah. Butuh reformasi segera. Saya mau membahas film bagus yang baru saja saya tonton di netflix sambil menikmati hujan. Judulnya ‘Training Day’. Film lama. Film ini dibintangi Ethan Hawke yang memerankan tokoh Jake, seorang polisi pemula yang tengah “magang” di unit narkoba kepolisian Los Angeles AS. Ia dapat mentor bernama Alonzo. Saya kurang tau aktor ini. Di sinopsisnya tertulis Denzel Washington. Jake sedang training akhir sebelum dia bisa diputuskan tetap di tempat ini atau tidak.

Di lapangan, Jake mendapati banyak kejanggalan pada model kerja seniornya, Alonzo. Tapi dia ikut terus. Belakangan barulah dia tau, Alonzo ini adalah bagian dari penjahat narkotika berskala besar. Omset peredarannya di Los Angeles saja demikian besar. Alonzo lah yang mengatur lalu lintas perdagangan, mengatur pertemuan bandar besar dengan bandar kecil sehingga tidak terlacak. Ia dapat persen dari aktivitasnya itu, di samping dia juga pemakai. Ia seperti perwira tinggi di Konoha yang mengatur perjalanan sabu masuk ke daerah.

Jake, dengan keteguhan moralnya, menolak pengaruh Alonzo. Ia bahkan membongkar persekongkolan jahat ini. Selanjutnya? Ya bisa ditebak. Film-film hollywood selalu bisa ditebak. Praktek busuk Alonzo dikanal, dilingkari, diperkecil menjadi hanya sekedar perbuatan oknum. Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD) tetap berwibawa. Yang melakukan praktek itu hanya oknum Alonzo.

Mirip-mirip di sini. Setiap ada kasus yang melibatkan institusi kepolisian, kata kuncinya selalu oknum. Tapi, oknum kok banyak dan sering. Istilah oknum yang aneh untuk saya yang setiap hari bergelut dengan bahasa ini.

#Gerung
[9/2, 22.25] Igit WRT: Sabu Presisi Polisi

Saya tidak sedang membahas kasus seorang kasat narkoba di Polres Bima Kota yang dipecat dan jadi tersangka karena terlibat peredaran sabu. Ini kasus kecil. Yang besar banyak. Di NTB pula. Dari kasus-kasus narkoba pula saya sering malas mengedit berita terkait penangkapan pelaku penyalahgunaan narkoba oleh polisi kalau dikirimi berita oleh wartawan. Sebab pasti begitu-begitu saja. Barang yang disita sepoket dua paket saja. Yang ditangkap orang-orang kecil. Habis itu pelakunya rata-rata ditembak dengan alasan hendak melarikan diri. Dan selalu saja presisi sekali tembakan polisi. Yang kena selalu bagian betis. Entah betis kiri atau betis kanan pelaku. Betapa hebatnya polisi kita dalam hal akurasi menembak. Begitu kencengnya pelaku melarikan diri, tetap saja polisi bisa dengan presisi menembak betis pelaku. Entah bagian kanan maupun kiri pelaku. Tagline ‘Presisi’ benar-benar sudah menyatu dalam raga masing-masing personelnya.

Secara institusional, saya orang yang punya kepercayaan yang rendah terhadap polisi. Tentulah banyak seperti saya, cuma saya kebetulan mengungkapkannya di tulisan. Dan ini tidak ada kaitannya dengan banyak person-person polisi baik yang merupakan teman dan rekan kerja saya. Kepercayaan saya yang rendah ini terutama di bidang penegakan hukum pemberantasan narkoba ini. Dari kasus Teddy Minahasa sampai kasus seorang perwira di polres di Bima maupun di Mataram, begitulah gambaran faktanya. Konon, ini sekali konon, juga saya dengar dari seorang teman, siapa saja yang baru pindah menjadi pejabat tinggi di kepolisian di daerah ini, sudah otomatis disediakan fasilitas oleh bandar. Semoga ini tidak benar. Tapi melihat tren dan grafik kasus bisnis narkoba yang melibatkan aparat penegak hukum kita, saya yakin itu benar.

Saya sedang tidak membahas polisi terlibat bisnis sabu, bisnis obat terlarang. Sebab polisi kita memang secara kelembagaan sudah parah. Butuh reformasi segera. Saya mau membahas film bagus yang baru saja saya tonton di netflix sambil menikmati hujan. Judulnya ‘Training Day’. Film lama. Film ini dibintangi Ethan Hawke yang memerankan tokoh Jake, seorang polisi pemula yang tengah “magang” di unit narkoba kepolisian Los Angeles AS. Ia dapat mentor bernama Alonzo. Saya kurang tau aktor ini. Di sinopsisnya tertulis Denzel Washington. Jake sedang training akhir sebelum dia bisa diputuskan tetap di tempat ini atau tidak.

Di lapangan, Jake mendapati banyak kejanggalan pada model kerja seniornya, Alonzo. Tapi dia ikut terus. Belakangan barulah dia tau, Alonzo ini adalah bagian dari penjahat narkotika berskala besar. Omset peredarannya di Los Angeles saja demikian besar. Alonzo lah yang mengatur lalu lintas perdagangan, mengatur pertemuan bandar besar dengan bandar kecil sehingga tidak terlacak. Ia dapat persen dari aktivitasnya itu, di samping dia juga pemakai. Ia seperti perwira tinggi di Konoha yang mengatur perjalanan sabu masuk ke daerah.

Jake, dengan keteguhan moralnya, menolak pengaruh Alonzo. Ia bahkan membongkar persekongkolan jahat ini. Selanjutnya? Ya bisa ditebak. Film-film hollywood selalu bisa ditebak. Praktek busuk Alonzo dikanal, dilingkari, diperkecil menjadi hanya sekedar perbuatan oknum. Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD) tetap berwibawa. Yang melakukan praktek itu hanya oknum Alonzo.

Mirip-mirip di sini. Setiap ada kasus yang melibatkan institusi kepolisian, kata kuncinya selalu oknum. Tapi, oknum kok banyak dan sering. Istilah oknum yang aneh untuk saya yang setiap hari bergelut dengan bahasa ini.

Artikel Terkait
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
Populer
  Loading...
description
1
  Loading...
description
2
  Loading...
description
3
  Loading...
description
4
  Loading...
description
5
  Loading...
description
6
  Loading...
description
7
  Loading...
description
8
Flash News

All rights reserved. Terms & Conditions · Privacy Policy

© 2025 cogito.id