Catatan

Bermain Kata

news image description

turn-bottom-arrow   Foto

Di suatu pengajian, guru saya, almagfurullah TGH. Zahid Syarief, sempat menyentil ini. Saya bilang pengajian, tapi tepatnya saya tidak ingat, apakah waktu itu saat menerima tamu banyak atau bagaimana. Dia merespon kata-kata seorang oknum anggota dewan yang tengah dilidik APH dalam kasus penjualan tanah aset. Di koran, si dewan ini mengaku tidak pernah menerima uang sepeserpun dari hasil penjualan. “ Bukan soal uangnya. Dia sedang bermain kata-kata. Mana ada uang sepeser sekarang,” ungkapnya waktu itu.

Tadi habis salat subuh saya sempat baca berita. Saya telat tau, Gus Yaqut, eks Menteri Agama, ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan permainan haji setelah praperadilannya kandas. “ Saya tidak pernah terima uang sepeser pun”, katanya. Salah satu yang mengutip pernyataannya adalah portal online SindoNews, Kamis 12 Maret 2026.

Diksi peser, atau sepeser, kembali muncul. Sepeser itu artinya satuan mata uang tembaga yang bernilai setengah sen pada zaman kolonial Belanda dulu. Nama lainnya Rimis. 

Apa Gus Yaqut benar mempermainkan kuota haji dan menerima uang dari permainan itu? Ya belum tentu. Asas praduga tak bersalah berlaku. Nanti hakim yang memutuskan. Reaksi pendukungnya yang mendatangi KPK memberikan support moral dan menuding KPK tengah mengkriminalisasi Gus, juga sah-sah saja. Toh bau amis KPK dipakai sebagai alat kekuasaan untuk melakukan kriminalitasi orang masih sering tercium kan. 

Catatan ini membahas yang remeh saja. Gus Yaqut, dan banyak tersangka kasus korupsi lain, sering bermetafora menggunakan kata sepeser untuk meyakinkan siapa saja bahwa dia memang tidak menerima uang sebagaimana yang dituduhkan. Sama seperti teman yang kesal saat ada temannya bilang “pinjam dulu seratus”. Dia jawab “Sumpah. Lillahi ta'ala aneh. Sepeser kamu cari enggak ada bro,”. Perhatikan. Bahasanya benar. Sumpahnya juga benar. Dia tidak bohong. Tidak ada tembaga setengah sen di dompetnya. Ini namanya metafora. Dan metafora ‘sepeser’ paling ngetren di kalangan politisi. Entah karena politisi kita memang belajar dan suka sastra, makanya omongan mereka indah-indah. Atau, itu, bermain kata-kata. Namanya juga bermain, tidak ada konsekuensi hukum dari permainan kata itu. Lha wong dia benar. Tidak ada sepeser. Yang ada miliaran.😄

Gus Yaqut yakin dirinya dikriminalisasi. Siapa yang mengkriminalisasi dia? Belum jelas. Apa tujuan dia dikriminalisasi? Juga belum jelas. Tapi di postingan Gus Ulil di Facebook, ketemu jawabannya. Dengan heroik, Gus Ulil, yang dulu sekuler sekarang sufi itu, bilang begini. Di akun facebook-nya. “...Saya sedih dan marah. Kok teganya KPK dan orang2 yg ada di balik pemaksaan kasus kuota haji ini memperlakukan NU seperti ini. Warga Nahdliyyin, kita patut MARAH!!!”. Gus Ulil punya pengikut banyak. Dia punya pengajian khusus di medsos. Khusus membahas kitab-kitabnya Al-Gazali. 

Gus Ulil tentu saja ahli bahasa. Dia paham ilmu mantik (logika). Jadi selain sedang “bermain bahasa”, statusnya juga sedang bermantik ria. Dia sedang membangun narasi yang menurutnya logis. Memperlakukan Gus Yaqut seperti itu, berarti otomatis memperlakukan NU seperti itu. Mengkriminalisasi Gus Yaqut, otomatis mengkriminalisasi NU. Begitu Gus Ulil membangun silogisme-nya sendiri di postingannya hari Kamis tanggal 12 Maret 2026.

Gus Ulil sedang bermain kata-kata? Menurut saya iya. Sebab dia sedang menegasikan fakta perbedaan antara Gus Yaqut sebagai individu dan NU sebagai jam'iyah (Ormas). Dia ingin menyatukannya. Mengganggu Gus Yaqut adalah mengganggu NU. Permainan kalimat seperti ini berpotensi menimbulkan efek psikis besar. Orang NU di mana-mana akan marah dan menyatakan sikap melawan KPK karena lembaga antirasuah ini sedang mengobok-obok NU. Gus Ulil punya ‘agenda’ itu di balik kata-katanya? Apa Gus Ulil tengah memainkan emosi massa NU sebab bagaimana pun juga Gus Yaqut adalah tokoh NU? Ya nggak tau saya. Mungkin iya. Juga mungkin tidak. Fokus saya hanya di bahasa. Di metafora. Di permainan kata. Di logika-logika sederhana yang banyak berserakan dari mulut politisi kalau lagi bermasalah di hukum. 

Di lapangan, selain bermain metafora, banyak politisi pintar menggeret masalahnya dari masalah pribadi menjadi masalah umum. Di dekat-dekat sini banyak. Seorang tuan guru bisa menghipnotis jemaahnya untuk bersedia mati membelanya. Dengan silogisme yang sama. Dengan permainan kata yang sama. “Menyerang saya adalah menyerang organisasi kita,”. 

Maka, jangan meremehkan kata-kata. Manusia menciptakan peradaban lewat kata-kata. Meruntuhkan peradaban pun lewat kata-kata. Seperti diksi ‘sepeser’ di atas.

Artikel Terkait
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
Populer
  Loading...
description
1
  Loading...
description
2
  Loading...
description
3
  Loading...
description
4
  Loading...
description
5
  Loading...
description
6
  Loading...
description
7
  Loading...
description
8
Flash News

All rights reserved. Terms & Conditions · Privacy Policy

© 2025 cogito.id