Catatan

Makan Prabowo Versus AI Gibran

news image description

turn-bottom-arrow   Foto

Dulu pernah ada masa dimana guru langka, yang lalu diikuti dengan menjamurnya jurusan pendidikan keguruan. Sekolah tinggi ilmu keguruan laris-manis bahkan overload mahasiswa. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jadi incaran banyak orang tua meng-kuliah-kan anak-anak mereka.

Termasuklah saya. Meski bukan karena permintaan orang tua, saya masuk kuliah di kampus keguruan. Sepertinya saya terpengaruh oleh kampanye kelangkaan guru. Saya masuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sejak masuk, saya sudah membayangkan pasti akan diterima sebagai guru, baik guru negeri maupun swasta, oleh karena kondisi guru yang disebut sangat kurang.

Setelah lebih dari 10 tahun berlalu, apakah negara ini masih kekurangan guru? Masih bisa diperdebatkan. Sebagian sumber menyatakan kita masih kekurangan, dan bahkan sangat signifikan kekurangannya. Jika pun jumlah guru terlihat besar, distribusinya dianggap masih bermasalah karena tidak merata. Banyak guru menumpuk di wilayah perkotaan. Sementara di tempat terpencil, kekurangan guru adalah fakta lapangan. 

Di tengah perdebatan apakah guru kurang atau overload, secepat kilat muncul AI dengan segala variannya. Lewat beragam layanan, kini seakan guru dalam kapasitas sebagai subyek 'transfer of knowledge' sudah tergantikan oleh mesin. Apa yang tidak bisa dijawab oleh AI saat ini? Semua bisa jawab. Ia tempat kita bisa bebas bertanya kapan saja dan di mana saja. Perkara AI banyak salah, toh sama saja, guru beneran juga sering dan banyak salah. 

Dengan teknologi macam Chat GPT, Gemini atau Meta sebagai penambah, saya berpendapat jumlah guru di Indonesia sudah terlalu banyak. Di NTB saja, setiap tahun, kampus-kampus yang ada bisa memproduksi ribuan sarjana pendidikan. Di kampung saya misalnya, overload S.Pd sangat nyata. Hampir 80 persen sarjana adalah sarjana pendidik. Suatu hari saya mencari tenaga pekerja untuk kepentingan projek tertentu, dan membutuhkan orang dengan spesifikasi pendidikan tertentu pula. Saya tentu mendahulukan kampung saya. Saya lalu tanya sana tanya sini, siapa yang bisa memenuhi spesifikasi yang saya inginkan. Hasilnya? Tidak saya temukan. Sebabnya? Rata-rata S.Pd semua. " Coba jangan sekolah S.Pd terus. Coba tes diri, masuk jurusan nuklir kek," ungkap saya "ngeremon" karena tidak menemukan tenaga. Di kampung sebelah pun demikian. Di kampung sebelahnya lagi demikian, S.Pd selalu mendominasi. Sudah gitu, mereka adalah rata-rata S.Pd yang tidak punya bekal skill berupa keahlian membuat terobosan-terobosan pengajaran. Mereka rata-rata S.Pd yang lahir, yang mohon maaf, masih terpaku dengan jadwal menunggu direkrut oleh pemerintah. Jangan-jangan sudah lebih banyak guru dibanding murid saat ini. 

Booming S.Pd sama dengan booming sekolah kesehatan. Waktu boomingnya pun bersamaan. Gambaran kondisi tenaga kesehatan juga sama, sama-sama (ceritanya) kita kekurangan dokter dan tenaga perawat. Maka lahirlah kampus-kampus yang membuka jurusan kedokteran yang masuknya berbiaya mahal itu. Konon kalau masuk jurusan kedokteran, orang tua seperti berinvestasi. Biaya kuliah mahal, tapi dijamin nanti anaknya langsung jadi rebutan. Dokter sudah pasti sangat dibutuhkan dimana-mana. Tenaga perawat juga demikian. Jurusan keperawatan laris manis-manis. Sampai-sampai pernah ada suatu masa, mahasiswa keperawatan punya 'kasta' lebih tinggi dibanding dengan mahasiswa jurusan lain. Mereka kuliah pakai pakaian putih-putih. Wih. Ceweknya udah cantik, besok selesai kuliah langsung bisa kerja lagi. Menggiurkan sekali.

Sekarang apakah dokter dan perawat masih kurang di Indonesia di tengah surplus produk lulusan dari kampus-kampus kesehatan berbiaya mahal itu? Ini juga masih jadi perdebatan. Sebagian data memang bilang begitu. Konon Indonesia masih kekurangan 70 ribu sampai 100 ribu dokter spesialis di tahun 2032 nanti. Masih ada kekurangan setidaknya 124 ribu dokter umum untuk memenuhi rasio kebutuhan berdasarkan standar WHO yakni 1 : 1000 penduduk. Masih kata data yang saya baca, produksi dokter masih kurang, juga belum merata. Kuliah di kedokteran yang mahal dan eksklusif, telah menciptakan budaya tersendiri. Karena biaya kuliahnya mahal, jangan berharap ada seperti di film-film, banyak dokter yang memilih terjun ke daerah-daerah terpencil, menangani kesehatan mereka yang miskin dengan bayaran seadanya. Percayalah itu hanya di film. Yang ada sekarang ini, banyak dokter yang menjadikan kekurangan dokter sebagai bargain. Jika rumah sakit A tidak mampu membayar mereka di angka sekian per bulan, mereka bisa dengan mudah 'dibajak' oleh rumah sakit lain yang bersedia membayar dengan harga yang lebih fantastis. "Enak aja, saya sekolah mahal-mahal, mau dihargakan sekian," mungkin begitu kata dokter itu. 

Sekali lagi, dokter yang memilih terjun ke kampung-kampung terpencil, menjadi relawan kemanusiaan untuk orang-orang miskin yang tidak paham kesehatan, yang tidak hanya sekedar memberi resep sambil nunduk dan nyaris tidak pernah menatap pasien padahal mereka manusia, melainkan langsung sebagai pendorong dan motivator hidup sehat dengan cara mengorganisir warga, itu hanya di film. Gengsi sekolah mahal telah menciptakan budaya elit di lingkaran tenaga kesehatan kita.

Lalu teknologi makin oke saja. Tenaga kesehatan harus beradaptasi dengan teknologi, terutama AI. Alumni-alumni keperawatan kini banyak nganggur. Tugas-tugas mereka banyak yang bisa dilakukan oleh teknologi. Maka rumah sakit tidak lagi jor-joran merekrut tenaga perawat. Di banyak rumah sakit, saya tau ada banyak lulusan keperawatan yang bersedia membayar uang pelicin yang penting bisa masuk dan bekerja di rumah sakit itu meski dengan status yang tidak jelas. Gengsi telah menjadikan mereka begitu. Sudah jadi mahasiswa dengan kasta tinggi, masak setelah lulus nganggur. Masalahnya, kebutuhan akan perawat makin berkurang, sementara jumlah lulusan perawat sudah over, mirip S.Pd di atas. Akankah kondisi ini akan terjadi di dokter? Bisa jadi. Bill Gates sudah meramalkan itu. Kecerdasan buatan (AI) akan secara drastis mengubah peran guru dan dokter. AI akan banyak mengambil alih tugas medis, dan menjadikan sarana kesehatan akan lebih mudah diakses dan gratis. AI mampu memberikan saran medis, mendiagnosis penyakit, dan menangani kebutuhan kesehatan dasar. Teknologi AI, masih kata Bill Gates, akan mengatasi kekurangan tenaga kesehatan di berbagai belahan dunia dengan menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau bahkan gratis. Dan kini, perlahan namun pasti, ramalan Bill jadi kenyataan. Kesehatan makin mudah diakses.

Dari dua dunia yang saya ulas di atas, saya ingin menyampaikan satu hal mendasar : untuk mencapai Indonesia Emas 2045, negara sudah harus dari sekarang merancang proyek strategis jangka panjang berupa pemetaan (riset), berupa kompetensi apa yang harus dipersiapkan warga sejak sekarang untuk mencapai visi besar itu? Tidak sekedar memetakan, negara juga harus mengarahkan warganya untuk mempersiapkan diri lewat kompetensi yang dibutuhkan itu. Negara punya kuasa mengatur itu. Kampus-kampus diarahkan membuka jurusan-jurusan yang mengarah ke visi besar global. Kampus jangan dibiarkan seperti pasar yang bebas menjajakan jurusan seenaknya, yang ternyata itu tidak kompetitif di masa depan berdasarkan riset. Negara bisa melakukan moratorium, misalnya moratorium jurusan tertentu. Ini penting supaya visi negara, sesuai dengan produk yang dihasilkan kampus. Jangan sampai tidak sesuai. Bagaimana mau mencapai visi Indonesia Emas 2045 kalau ternyata produk kampus didominasi oleh alumni jurusan itu-itu saja? Tantangan global makin kompetitif, tapi yang banyak tersedia adalah sarjana agama, misalnya. Barangkali ini bagian yang sebaiknya dimoratorium itu. Setop dulu kuliah jurusan agama. Kita 'overload' agamawan.

Setelah moratorium, pemerintah bisa fokus menggenjot lulusan yang mendukung visi besar negara itu. Investasilah besar-besaran di sana. Maksimalkan anggaran untuk sektor ini, jangan disunat-sunat untuk kebutuhan lain. Penuhi mandat konstitusi bahwa 20 persen APBN harus ke sektor pendidikan secara utuh. Permudah akses warga ke dunia literasi. Lakukan gebrakan besar-besaran untuk meringankan beban mahasiswa yang kuliah di jurusan-jurusan yang mendukung visi besar negara. Hamburkanlah uang negara ratusan triliun untuk investasi besar ini ; biaya kuliah murah. Harga buku murah. Semua murah. 

Karenanya, untuk keahlian membaca masa depan, menurut saya Presiden Prabowo kalah jauh dari Gibran, wakilnya. Prabowo tiap hari bicara makanan. Gibran tiap hari bicara AI. Banyak yang menertawakan Gibran. Padahal yang layak mereka tertawakan itu Prabowo. 

Saya sendiri ingin menertawakan keduanya karena tidak memperhatikan satu jurusan ilmu yang maha penting : filsafat. Dan kalian, boleh menertawakan saya di kolom komentar karena menganggap ilmu filsafat itu penting. Kita saling tertawakan. Tertawa bersama.

 

Artikel Terkait
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
Populer
  Loading...
description
1
  Loading...
description
2
  Loading...
description
3
  Loading...
description
4
  Loading...
description
5
  Loading...
description
6
  Loading...
description
7
  Loading...
description
8
Flash News

All rights reserved. Terms & Conditions · Privacy Policy

© 2025 cogito.id