Catatan
Qunut Sintetis
Foto
DILARANG : PNS dilarang berpolitik praktis, kecuali mau dapat akibat seperti dua PNS Lombok Barat. Keduanya dipecat karena mengkampanyekan salah satu Paslon di Pilkada 2024 lalu.( ist/cogito)
Saya menginap di rumah keluarga untuk beberapa hari ke depan. Di dukuh Sragan, masuk wilayah Bantul. Azan subuh berkumandang dari musala tidak jauh dari rumah. Di pedukuhan ini ada empat musala yang jaraknya cukup berjauhan. Saya bangun, bergegas ke musala dan salat berjamaah bersama jemaah lain.
Adik ipar saya, yang punya rumah, seorang alumni MAK Pancor. Di keluarga kami, dialah yang mengawali kuliah jangan dekat rumah terus. Harus berani keluar. Maka dia keluar. Kuliah di Jogja dengan perjuangan yang ekstra. Tamat kuliah dia mengawini gadis Bantul, lalu bekerja dan menetap di Bantul. Dia pengusaha muda yang cukup sukses. Subuh ini dia jadi imam, memimpin kalau tidak salah tiga makmum laki dan empat perempuan.
“ Ini komplek Muhammadiyah total kok qunut tadi?” tanya saya selesai salat.
“ Ini karena ada usul dari salah satu jemaah. Dia usul, kalau mau qunut, qunut aja, untuk menampung aspirasi satu dua jemaah yang biasa qunut” jawabnya.
“ Imam yang lain tidak qunut, cuma berdiri agak lama setelah ruku’, memberi kesempatan jemaah yang qunut’, tambahnya.
Musala ini masih tergolong sepi jemaah meski pemukiman besar. Salat magrib saja makmumnya tidak banyak. Satu musala lainnya dikelola oleh jemaah LDII.
Sehari sebelumnya, di atas kapal laut di wilayah perairan Bali bagian utara, saya ikut salat subuh di musala kapal. Saya ikut imam yang tidak qunut. Tapi satu orang di samping kanan saya tidak mau ikut imam. Dia memilih qunut sendirian. Imam sudah siap-siap salam baru yang di samping saya ini selesai berdoa lalu sujud. Azzam, anak saya, langsung berbisik. “ Lo kok bapak tadi telat sekali sujudnya Pak?” Saya jawab seperlunya. “Bebas, yang penting dia salat,”.
Qunut adalah ‘doa khusus’ setelah ruku’ di reka'at kedua salat subuh. Qunut pernah menjadi identitas mutlak pembeda NU dan Muhammadiyah. Qunut pernah menjadi bagian dari ‘politik identitas’ yang sengaja digosok-gosok untuk mempertajam perbedaan dua ormas ini. Apa saja, jika perbedaannya tidak prinsipil, tapi menjadi terlihat prinsipil untuk dipertajam, biasanya itu diciptakan oleh kekuasaan. Perbedaan dipertajam untuk upaya pengelompokan, pelabuhan, pengkategorian politik, lalu pada akhirnya untuk mengawetkan kekuasaan.
Qunut di basis Muhammadiyah tentu bukan barang baru. Yang mau saya potret adalah lebih dari itu. Misalnya, seorang teman saya, tokoh Muhammadiyah, rajin sekali ziarah makam keramat. Saya pun berguyon meragukan kemuhammadiyahannya gara-gara itu. Dia jawab begini. “ Kalau mau Muhammadiyah berkembang, ya harus begini, akomodatif terhadap nilai-nilai lokal,”. Yang dia tidak bisa jawab adalah kenapa dia dan warga kampungnya senang sekali mengunjungi salah satu makam yang tidak jelas bahwa itu makam siapa dan sejarahnya kayak bagaimana.
Pewarnaan Islam kiri, tengah dan kanan kini sudah kabur. Yang kiri bisa di kanan. Yang kanan bisa ke tengah sedikit, atau malah pindah ke kiri secara radikal. Sekarang kader-kader PKS ikut baca barzanji, ikut yasinan, ikut tahlilan. Jika dilihat dari sudut atas, mungkin ini bagian dari transformasi partai kanan ini menjadi partai terbuka dan modern. Jika dilihat dari sudut bawah, ini adalah gerak alamiah akar rumput. Mereka, oleh pendidikan yang baik, semakin memahami bahwa selain fondasi prinsipil seperti tauhid, perbedaan hanyalah warna-warni yang membuat hidup ini makin indah. Atau, ketimbang sibuk mencari perbedaan, kenapa kita tidak getol menemukan persamaan saja.
Masjid dan musala adalah etalase ummat. Etalase akan bagus kalau di dalamnya diisi dengan beraneka ragam menu supaya pengunjung ramai. Masjid dan musala kita sebaiknya tidak berwarna tunggal. Pengurusnya dicampur-campur saja. Kalau ketuanya orang Muhammadiyah, sekretarisnya orang NU. Nanti jika kebetulan Idul Fitrinya berbeda hari, maka pengurus bisa mengatur dua kali salat Idul Fitri. Ketimbang salat di lapangan kan lebih baik di masjid yang ada saja.
Masjid dan musala sudah semestinya ramah terhadap siapa saja yang berlatar warna apa saja, sepanjang dia punya warna.
Pada konteks yang lebih luas, ini yang dinamakan islam sintetis itu. Upaya mengintegrasikan semua elemen berbeda menjadi satu kesatuan yang baru. Menyatukan berbagai aspek Islam, termasuk ajaran agama, tradisi, dan nilai-nilai budaya dengan konteks yang luas.
Islam sintetis inilah yang bikin umat kuat. Syiah bisa bersama dengan ahlissunnah, wahabi bisa bersama dengan NU, dan lain-lain. Jangan seperti sekarang, berorganisasi saja seperti beragama. Bahkan cara orang berorganisasi melebihi cara orang beragama.
All rights reserved. Terms & Conditions · Privacy Policy
© 2025 cogito.id