Catatan

Sanad Survival Iran

news image description

turn-bottom-arrow   Foto

Jika Iran masih tetap terlihat perkasa meski sekian lama diembargo ekonominya, masih tegak melawan meski digempur habis-habisan oleh negara yang konon senjatanya paling canggih di dunia, itu tidak ujug-ujug. Syiah,  yang menjadi ideologi negara Iran, punya sanad survival (daya tahan banting) yang membentang berabad-abad, sejak terbunuhnya Ali Bin Abi Thalib. Saya akan coba ringkaskan sanad survival Iran. Silahkan bantah di kolom komentar kalau memang tidak setuju. Saya merujuk ke beberapa sumber buku sejarah.

Kemelut politik paling kusut pasca wafatnya Rasulullah SAW itu adalah saat transisi kepemimpinan setelah Khalifah Usman Bin Affan terbunuh. Ada dua tokoh utama selama masa transisi ini, yakni Ali Bin Abi Thalib dan Muawiyah  Bin Abu Sufyan. Dalam situasi politik yang genting, Ali dibaiat sebagai khalifah pengganti Usman Bin Affan di Madinah tahun 656 M. Sebaliknya, gerbong Muawiyah bermanuver. Muawiyah yang saat itu jadi Gubernur Syam, memastikan akan ikut membaiat Ali jika pembunuh Khalifah Usman diusut terlebih dahulu. Manuver Umayyah berhasil. Ia punya alasan menolak membaiat Ali karena menganggap Ali tidak menjadikan pengungkapan atas pembunuhan Usman sebagai prioritas. Keduanya lalu berhadap-hadapan. Pecahlah perang Siffin di tahun 657 M.

Siapa mentor Muawiyah sehingga ia begitu kuat meski hanya sekelas gubernur waktu itu? Tentu saja bapaknya, Abu Sufyan, salah satu sahabat yang masuk Islam saat kepepet. Yakni saat Nabi sudah bisa menguasai Makkah ketika fathul makkah. Abu Sufyan seperti tak punya pilihan. Di tulisan sebelumnya, saya dianggap melecehkan Abu Sufyan sang sahabat nabi itu. Tapi faktanya demikian. Dia masuk Islam karena terjepit.

Anaknya, Muawiyah, tak kalah liciknya. Di Perang Siffin dia hampir kalah. Ia bermanuver dengan mengajukan gencatan senjata. Di sejarah, itu disebut tahkim. Pihak Ali yang “lugu” kalah secara politik di tahkim ini. Legalitas Ali sebagai khalifah melemah, sementara posisi Muawiyah makin menguat. Internal Ali pecah dua. Kelompok pertama adalah kelompok yang tidak sudi dengan gencatan ini. Mereka inilah yang oleh sejarah disebut khawarij, kelompok yang membenci sikap politik Ali yang lembek. Kelompok kedua adalah kelompok yang tetap setia terhadap Ali. Mereka disebut Syiah. Atau, Syiatul ‘Ali, pengikut setia Ali.

Perjanjian ini secara de facto dan de jure membuat pamor Ali melemah. Pamor Muawiyah melejit. Ali dibunuh oleh pengikutnya yang menentang perdamaian dengan Muwaiyah. Pengikut Ali yang masih setia lalu membaiat Hasan bin Ali sebagai pengganti Ali.

Tapi Muawiyah tetaplah sebagai penguasa lapangan politik. Dengan gerakan-gerakannya, ia berhasil memaksa Hasan mengakui kepemimpinannya. Syarat yang diajukan Hasan sederhana, pengikut Ali jangan diapa-apakan. Ok, kata Muawiyah.

Muawiyah menepati janjinya? Lagi-lagi tidak. Setelah mengemban kekuasaan hasil deal-deal politik dengan Hasan, dengan alasan stabilitas, ia mulai memburu para pengikut Ali. Syiah menjadi ancaman di mana-mana. Mereka diinteli, di-list, lalu ditertibkan seperti istilah Presiden Prabowo.

Berapa lama Dinasti Muawiyah berkuasa, selama itu pula Syiah jadi kelompok yang terancam dan diancam. Dinasti Muawiyah berkuasa dari 661 M sampai 750 M. Selama itulah Syiah hanya punya dua pilihan, memberontak dengan terang-terangan, atau sembunyi agar tidak terciduk. Dua pilihan ini adalah teknik survival mereka dengan risiko yang sama-sama berat.

Satu, survival dengan menyerang terbuka yang terbukti selalu gagal. Peristiwa di Lembah Karbala adalah perang paling menyakitkan. Husain bin Ali, cucu nabi, bersama pasukannya yang tidak seberapa, tumbang dibantai pasukan Yazid bin Muawiyah. Yazid dan ayahnya, sama liciknya berpolitik. Bahkan mungkin sama liciknya dengan sang kakek, Abu Sufyan. Ini fakta sejarah. Tapi puncak upaya genosida terhadap Syiah terjadi saat Dinasti Umayyah dipimpin oleh Abdul Malik dan Hajjaj. Banyak pengikut Ali dieksekusi mati. Terutama di wilayah Irak dan Iran saat ini.

Kedua, survival dengan bersembunyi. Mereka inilah yang dikenal dengan istilah Taqiyyah, kelompok pendukung Ali yang sembunyi, menyamar, agar tidak diketahui penguasa. Mereka menunggu dengan sabar kapan kekuatan politik mereka terkonsolidasi dengan baik, lalu keluar dari persembunyian mereka. Keluar dari penyamaran mereka.

Angin segar ketika Dinasti Umayyah runtuh lalu digantikan oleh Dinasti Abbasyiah. Malang sekali, angin segar hanya sesaat. Syiah kalah manuver lagi. Praktek survival mereka kembali diuji, beratus-ratus tahun lagi. Yakni selama Abbasyiah berkuasa itu (750 M sampai 7258 M). Mereka tetap dianggap sebagai ancaman paling ideologis. Karenanya harus dibasmi.

Maka kini, jika Iran terkenal survive di medan yang paling kritis sekalipun, lalu negara ini menjadikan Syiah sebagai ideologi kekuasaannya, sekali lagi, itu tidak terjadi tiba-tiba. Sanad survival mereka membentang beratus-ratus tahun. Praktek bertahan hidup dalam tekanan mereka sudah mengkristal. Mereka terbiasa diburu dan hidup dalam bayang-bayang ancaman.

Amerika mungkin dengan gampang membombardir gedung-gedung Iran. Tapi Amerika akan sangat sulit menggulingkan landasan survival ke-syiah-an penguasa Iran. Ini akan menjadi perang panjang. Berbiaya besar. Dan korbannya adalah sebagian warga Iran yang menganggap ideologi politik hanyalah omong kosong. Mereka yang mau hidup aman dan nyaman, tidak mau tau apa itu syiah.

Rasinah Abdul Igit/Jurnalis Warga

#Gerung

Artikel Terkait
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
Populer
  Loading...
description
1
  Loading...
description
2
  Loading...
description
3
  Loading...
description
4
  Loading...
description
5
  Loading...
description
6
  Loading...
description
7
  Loading...
description
8
Flash News

All rights reserved. Terms & Conditions · Privacy Policy

© 2025 cogito.id