Catatan

Sapta Pesona, Sapta Tantangan

news image description

turn-bottom-arrow   Foto

DILARANG : PNS dilarang berpolitik praktis, kecuali mau dapat akibat seperti dua PNS Lombok Barat. Keduanya dipecat karena mengkampanyekan salah satu Paslon di Pilkada 2024 lalu.( ist/cogito)

Saat lagi booming, Saya tidak terlalu tertarik nonton film “KKN di Desa Penari”. Konsep Film Horor Indonesia itu tidak jauh-jauh dari seputar hantu, genderuwo, pocong, tuselaq dan sejenisnya. Saya mau nonton karena ada kata KKN di judul film ini. Kuliah Kerja Nyata. KKN saya waktu kuliah dulu berkesan sekali karena bersama mahasiswi yang kini menjadi istri saya. Film ini ber-setting kampung terpencil di Jawa Timur. Padahal lokasi syutingnya itu di pedukukan-pedukuhan di Gunung Kidul, Sleman dan Bantul DIY.

 

Terpengaruh oleh film itu, hari ini saya berkunjung ke salah satu lokasi syutingnya. Berangkat jam tiga pagi. Suasana sepi menyergap di jalan. Tapi aman. Hampir sampai di dukuh ini ada musala pinggir jalan. Mampir salat subuh.

 

“ Aman gak?” tanya saya.

“Aman dong” ungkap adik saya.

 

Saya bertanya karena hampir di sepanjang jalan dari mulai masuk jalan kecil namun mulus, tidak ada kami berpapasan dengan kendaraan lain. Sebetulnya ada dua pengendara motor.

 

Pertanyaan aman atau tidak bukan hanya ada di kepala seorang pelancong dadakan seperti saya sekarang ini. Ini pertanyaan utama hampir semua wisatawan kalau mau mengunjungi tempat wisata. Bagus atau jelek itu pertanyaan selanjutnya. Mengapa ada tempat yang secara ‘view’ masuk skor biasa saja, tapi ramai. Sementara ada tempat indah, justru sepi pengunjung. Sudah pasti alat ukurnya itu ; aman atau tidak.

 

Pariwisata Indonesia punya kitab suci. Namanya Sapta Pesona. Kitab panduan berupa tujuh unsur yang harus dipenuhi agar pariwisata hidup dan menghidupkan. 

 

Apa poin utama dan paling atas? Ya. Aman. Turis akan mikir dulu daerah yang mau dikunjungi itu aman atau tidak. Nanti di jalan rawan dicegat begal atau tidak. Di bandara nanti banyak orang maksa-maksa naik kendaraan atau tidak. Di pantai banyak pengamen gejreng-gejreng tidak jelas terus minta upah setengah maksa atau tidak. Itu sudah ada di kitab. Aman dulu.

 

 

Aman ini tentu saja aman secara pengertian umum. Aman diri, aman di safety system, juga aman lingkungan. Pertama, aman diri. Jam berapa saja keluyuran terasa aman. Tapi bukan berarti sok menihilkan kriminalitas. Di mana-mana tentu ada aksi kriminal. Tapi karena kita punya polisi, grafik bisa dihitung. Kalau dalam sebulan ada sekian kali aksi kejahatan dan hitungannya rata-rata tetap, bahkan meningkat, berarti itu bukan soal kriminal biasa. Berarti itu menyangkut sistem yang butuh perbaikan dan perbaikan. Percayalah, mau sebagus surga tempat wisata kita, kalau tidak aman, tidak akan ada yang datang.

 

Kedua, aman dalam pengertian safety system yang memadai. Di mana-mana tempat wisata, safety sistem harus menjadi yang utama. Sebagian keuntungan pariwisata harus diinvestasikan untuk sistem keamanan dan keselamatan yang sepadan dengan kelas wisata yang dibuka. Kalau wisatanya kelas dunia, maka safety systemnya harus kelas dunia pula. Baru-baru ini seorang pendaki asal Brasil meninggal dunia setelah terjatuh dari jurang saat naik ke puncak Rinjani. Peristiwa ini jadi sorotan dunia. Rinjani adalah wisata kelas dunia, tapi safety system-nya tidak kelas dunia. Pihak pengelola terkesan tidak fokus berinvestasi ke soal ini dari hasil keuntungan yang ada. Adalah benar kematian datang kapan saja. Adalah benar bahwa alam tapi bisa ditebak maunya. Tapi tetap saja ada angka-angka yang dipakai untuk bisa mengukur destinasi ini butuh apa saja, perlengkapan apa aja, Helikopter yang selalu standbye di bawah itu kebutuhan atau tidak. Drone berkualitas bagus itu kebutuhan atau tidak. Ini adalah konsekuensi penyematan status wisata dunia. Makanya, jangan suka gampang-gampangan memakai slogan mendunia. Itu berkonsekuensi besar. Bandara kita berstatus internasional, nyatanya sampah banyak. Wisatawan sering tidak nyaman oleh banyak penawar jasa transportasi yang justru tidak menawarkan tapi memaksa. Untuk apa sih gaya-gaya dengan kata internasional tapi safety system kita belum mencerminkan internasional. Yang ini, lebih mengarah ke poin ke dua di dalam kitab sapta, yakni tertib.

 

Ketiga safety lingkungan. Mau buka wisata apa saja, unsur lingkungan ini erat menempel. Itu sebabnya pariwisata sangat sensitif dengan isu lingkungan. Mengapa orang begitu banyak bersuara tentang aktivitas pertambangan Nikel di Pulau Gag? Itu karena dia dekat dengan wisata Raja Ampat yang masyhur itu. Tambang, mau berizin atau tidak, merusak lingkungan. Belum ada sejarah lokasi tambang berizin telah bisa dikembalikan lagi fungsi ekologisnya seperti semula setelah dikeruk. Karena itu, dia merusak lingkungan. Kenapa banyak orang menyoroti aktivitas tambang emas ilegal di Sekotong? Karena di sekitarnya adalah kawasan wisata andalan yang sedang getol-getolnya dipromosikan oleh pemerintah daerah. Pernah ada seorang anggota DPRD NTB bicara, pariwisata dan tambang bisa disandingkan dengan tambang. Teori itu dia pungut dimana, kurang tau saya. Tambang ilegal telah merusak citra wisata Sekotong yang indah selain oleh masalah kekacauan administrasi tanah. 

 

Di banyak rumah warga terdapat mesin gelondong. Mercury dijual bebas. Sementara limbah pemisahan batu dan emas meresap ke tanah, mengalir ke sungai, sampai ke laut. Lingkungan yang tercemar adalah musuh utama pariwisata, lebih-lebih untuk daerah yang memang benar-benar mengandalkan eksotisme alam sebagai jualan utama. “Apakah air di Sekotong aman diminum?” Seorang wisatawan pernah bertanya seperti itu. Kalau saya yang ditanya begitu, tentu saja saya akan tegas menjawab “ tentu saja aman!”. Saya tidak mau dong daerah saya diragukan keamanan lingkungannya. 

 

Di kitab, kenangan adalah kesimpulan akhir dari perjalanan wisata. Saya sudah beberapa kali mengunjungi tempat yang saya kunjungi saat ini. Ada semacam sesuatu yang tak terlihat yang menarik saya untuk datang. Itu adalah kenangan. Poin terakhir dari Sapta Pesona.

 

Kalau kamu? Tempat mana yang kamu kunjungi lalu berjanji tidak akan datang lagi karena tidak aman berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas?

Artikel Terkait
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
  Loading...
description
Populer
  Loading...
description
1
  Loading...
description
2
  Loading...
description
3
  Loading...
description
4
  Loading...
description
5
  Loading...
description
6
  Loading...
description
7
  Loading...
description
8
Flash News

All rights reserved. Terms & Conditions · Privacy Policy

© 2025 cogito.id